SupirPete2

Sebuah Kisah dari Laga Klasik PSM vs Persib di Mattoanging

Makassar – Suara gemuruh dari tribun penonton Stadion Andi Mattalatta serentak terdengar usai gawang yang dikawal oleh M. Natsir tak mampu mempertahankan keperawanannya. Persib Bandung harus menerima kenyataan tuan rumah unggul sementara di menit ke-81. Seketika para pemain Persib berusaha mengejar ketertinggalan namun pemain PSM pun tidak hanya piawai bertahan untuk mempertahankan keunggulan, tetapi juga berusaha menambah gol dihadapan pendukung fanatiknya.

Kisah pertemuan antara PSM dan Persib selalu punya ceritanya sendiri yang akan abadi untuk generasi selanjutnya. Laga yang mempertemukan PSM Makassar dan Persib Bandung adalah laga klasik yang selalu sarat gengsi. Siapapun pemain dan pelatihnya, selalu menempatkan laga ini sebagai suatu ‘reuni’ ajang pembuktian diri yang harus dimenangkan secara elegan di lapangan. Ya, secara elegan. Adu taktik, adu skill, adu kecerdasan dalam menguasai pertandingan hanya di atas lapangan. Sejak pluit awal dibunyikan sang pengadil, tensi pertandingan tak pernah surut. Para juru taktik kedua tim tahu betul apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan lawannya. Dan ini salah satu yang membuat pertandingan ini begitu menarik. Kesabaran dan kemampuan pemain dalam menahan emosi benar-benar diuji di laga ini.

Namun sepertinya tuan rumah lebih siap dalam menghadapi pertandingan yang bagi pendukungnya merupakan pertandingan super big match. Tuan rumah tahu betul bagaimana harus meredam kekuatan lawan dan menyerang dengan berbagai variasi serangan. Kemelut di depan gawang dihadapi dengan sangat tenang dan penuh konsentrasi. Mengutip pernyataan pelatih PSM, Robert Rene Alberts, tim yang melakukan kesalahan sekecil apapun dan kehilangan fokus meski hanya beberapa saat di pertandingan ini, akan sulit untuk menang.

Yang tak kalah menarik dari laga ini, meskipun kedua tim di lapangan bertarung dengan suasana yang beberapa kali sempat ‘memanas’ (ciri duel tim klasik), namun para pendukung Pasukan Ramang justru membawa pesan damai melalui sebuah koreografi manis yang sangat menyentuh. Pesan damai dari klub tertua di Indonesia agar ‘adik-adiknya’ berdamai demi sepakbola Indonesia yang lebih baik. Karena kita adalah saudara sebangsa setanah air Indonesia.

Pada akhirnya, kisah laga klasik yang berakhir dengan kemenangan PSM Makassar ini ditutup dengan kehadiran bulan purnama yang nampak terlihat sangat jelas di atas Stadion Andi Mattalatta. Seakan menyiratkan sebuah pesan. Layaknya bulan purnama yang terang dan indah di malam hari, semoga hingga akhir musim nanti, PSM membawa cahaya terang dan indah dengan sebuah prestasi untuk seluruh pendukung yang mencintainya. (*)

foto: @psm_makassar

Widya Syadzwina

1 comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.